0811106108

Al Irsyad Adalah Organisasi Kader Bukan Organisasi Trah

$rows[judul]

Dikalangan jumiyyah kita sering banyak pertanyaan dan bahkan tidak sedikit yang memperbincangkan tentang siapa  sebenarnya yg disebut kader Al Irsyad. Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya sangat penting, sebab masih ada yang memahami Alirsyad seolah olah hanya dikelola kelompok keluarga tertentu atau diwariskan secara turun-temurun.

Kita semua bisa menjelaskan bahwa kader Al-Irsyad  adalah mereka yang memahami nilai mabadi, aktif,  berkontribusi, serta  memiliki komitmen, terlibat dalam gerakan Al-Irsyad . Kader bukan sekadar nama, bukan pula hanya pengakuan sosial, tetapi orang yg hidup bersama denyut perjuangan Dakwah Al-Irsyad .

Al-Irsyad  adalah gerakan dakwah, gerakan ilmu dan gerakan amal yg terbuka bagi siapa saja yg ingin berjuang di dalamnya.

jika seseorang kemudian menjadi warga Al-Irsyad , memiliki kartu anggota, aktif mengikuti pengkaderan, kegiatan organisasi, serta berkomitmen dalam perjuangan Al-Irsyad , maka secara organisasi ia adalah kader Al-Irsyad 

Namun sesungguhnya menjadi kader bukan semata soal memiliki kartu anggota Al-Irsyad , melainkan soal sikap, akhlak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kartu anggota hanyalah tanda administratif, sementara nilai kader sejati terlihat dari bagaimana seseorang menjaga amanah, berukhuwwah,  menjaga integritas dan berjuang untuk kemaslahatan umat.

Inilah salah satu kekuatan Al-Irsyad  sejak awal berdirinya. Gerakan ini tidak dibangun atas dasar darah dan keturunan, tetapi atas dasar nilai, pemikiran, pengabdian dan amal nyata. Al-Irsyad tidak bertanya siapa ayahmu, margamu atau keluargamu, tetapi apa kontribusimu bagi umat, bangsa dan kemanusiaan/ummat.

Di sinilah pentingnya melahirkan kader yg tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran sosial, spiritual dan kemanusiaan. Sebab mabadi Al-Irsyad   bukan sekadar slogan indah, melainkan harapan agar kader Al-Irsyad  mampu menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat, umat dan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud bukan hanya soal gelar dan ijazah, tetapi kemampuan menghadirkan solusi, keteladanan dan keberlanjutan perjuangan dalam kehidupan nyata.

Dan bahkan ada pertanyaan yang perlu kita jawab bersama  “Apakah boleh menjadi pengelola Amal Usaha Al-Irsyad ?”

Kita bisa menjelaskan bahwa setiap kader Alirsyad  pada dasarnya memiliki hak untuk mengelola Amal Usaha Al-Irsyad  sesuai dengan ketentuan organisasi dan syarat yang berlaku. Sebab Amal Usaha Al-Irsyad  bukanlah milik pribadi atau kelompok tertentu, melainkan alat perjuangan dakwah Al-Irsyad utk kemajuan jumiyyah yg senantiasa konsisten bergerak dibidang pendidikan, dakwah dan sosial. 

Tentu ada mekanisme, ada syarat, ada kompetensi dan ada amanah yg harus dijaga. Tetapi prinsip dasarnya tetap sama, bahwa kesempatan itu terbuka bagi kader yang memiliki loyalitas, kemampuan dan tanggung jawab terhadap Al-Irsyad.

Kader Al-Irsyad  juga harus menjaga martabat pribadi &  martabat organisasi, serta tunduk patuh kepada aturan yg ada, Sebab Al-Irsyad  bukan hanya berbicara soal organisasi, tetapi juga akhlak &  keteladanan/Qudwah. Karena itu kader Al-Irsyad harus berusaha berpegang teguh kepada Al-Quran dan As-sunnah serta menjauhi  berbagai perbuatan yg bertentangan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya (Mabadi). Sebab sebesar apa pun jabatan seseorang di organisasi, jika tidak memberikan Qudwah yg baik, maka yg dinilai bukan hanya dirinya, tetapi juga nama baik Jumiyyah.

Karena itu, menjadi kader Al-Irsyad  bukan sekadar memakai atribut atau hadir dalam acara seremonial. Kader adalah mereka yg mau belajar, mau bergerak, mau berjamaah,  mau menjaga organisasi & mau berkhidmat untuk kepentingan umat.

Al-Irsyad  sejak awal lahir bukan untuk membangun “trah organisasi”, tetapi membangun peradaban. Maka ukuran utamanya bukan garis keturunan, melainkan kesungguhan dalam perjuangan membangun peradaban, dan membangun karakter Taqwa.

wassalam
Sahabatmajlas

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)