Dalam sejarah Islam terdapat sosok pendidik karakter inspiratif yaitu Luqman Al-Hakim namanya, ceritanya dijelaskan secara komprehensif dalam Al-Qur’an pada surat Luqman.
Pada kesempatan ini sedikit kita mengulas sejarah kehidupan Luqman Al-Hakim dalam men Tarbiyah atau mendidik anaknya.
bagaimana biografi seorang Luqman Al-Hakim, Para jumhur ulama berpendapat bahwa Luqman bukan seorang nabi, dia adalah sosok manusia biasa yang memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT. Keistimewaan terletak pada cara tarbiyahnya terhadap anaknya.
“Luqman Al-Hakim merupakan seorang yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada zaman itu, tapi dia memiliki skill mendidik yang membuatnya dimuliakan oleh Allah SWT,”.
dan bagaimana julukan Al-Hakim yang disandarkan pada nama Luqman merupakan buah lisannya yang selalu melontarkan kata-kata bijaksana, tanpa pernah menyakiti hati siapa pun.
Allah Ta’ala menceritakan kisah Luqman Al Hakim dalam surat Luqman, ketika ia memberikan nasehat yang berharga kepada anaknya:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”” (Luqman: 13).
Ayat diatas sering kita dengar dan kita jadikan pegangan dalam memberikan dasar pendidikan kepada anak anak kita tentang ketauhidan (yaitu tidak mensekutukan Allah SWT dengan apapun).
ini adalah Kurikulum pertama yang harus ditekankan dalam pendidikan yakni ilmu tauhid,”.
ini menjadi bagian paling penting dalam pendidikan yang tidak boleh diabaikan.
Bagaimana tauhid harus ditanamkan sejak dini dipendidikan.
orang tua memiliki peran sentral dalam memberikan nilai nilai tauhid kepada anak anak nya.
dari kisah Luqmanul hakim kita bisa mengambil beberapa faedah/nasihat yang diberikan sosok Luqmanul hakim sebagai seorang ayah yg ditanamkan kepada anak nya.
Pertama adalah, Metode Pendekatan bagaimana orang tua yang berperan sebagai seorang pendidik dengan kedekatannya bersama sang anak, ini akan memperkuat dan menumbuhkan rasa nyaman dan aman dalam diri setiap anak, sehingga proses penanaman tauhid tersampaikan secara utuh dan dirasakan oleh sang anak dengan cepat.
Kedua, nasehat yang disampaikan dengan lemah lembut, atau yang disebut dengan Metode Mauidhoh (mendidik dengan lemah lembut). Melalui metode ini, Luqman dapat menyampaikan tauhid yang terasa berat menjadi sebuah materi ringan.
metode ini terkesan ringan tapi kadang terabaikan oleh kita selaku orangtua atau pendidik.
Ketiga, Metode Mulatofah merupakan kelembutan yang penuh kasih sayang Dalam konteks ayat diatas, cara memanggil Luqman kepada anaknya dengan kata “Ya Bunayya” menunjukkan kasih sayang orang tua/pendidik terhadap anaknya.
hal ini harus menjadi perhatian setiap orang tua/pendidik.
maka ketika ketiga metode tadi diterapkan, maka proses pendidikan akan terasa mudah dan menyenangkan.
Dalam kisah Lukman alhakim ini juga sangat ditekankan bagaimana nilai Tauhid menjadi landasan utama yg harus tertanam dalam jiwa anak anak kita.
sehingga anak anak akan mendapatkan ilmu dan menjalani masa depannya dgn pondasi yg sangat kokoh dan kuat.
Dalam Kisah Luqman Al-Hakim diatas juga kita bisa mendapatkan beberapa nasihat/ilmu yg diberikan Lukman kepada anaknya diantaranya :
1. Agar Anak Mendirikan Sholat
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ
“Hai anakku, dirikanlah shalat” (Luqman: 17).
Memerintahkan utk mendirikan sholat menjadi nasihat yg diberikan Luqmanul hakim kepada anaknya dengan senantiasa memberikan tuntunan yang sesuai dan bimbingan serta dengan tepat waktu.
Dari nasihat sholat ini akan menjadikan anak mempunyai karakter yg jujur dan disiplin.
2. Agar Anak Berbuat Baik kepada kedua orang tua.
Setiap anak harus berbakti kepada kedua org tua nya, yang telah mengandung dan melahirkannya dan memberikan air susu nya selama 2 tahun secara sempurna.
3. Memerintahkan kepada Kebaikan dan Mencegah dari hal yg Munkar
وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ
“dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar” (Luqman: 17).
Membiasakan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar dengan lemah lembut sesuai kemampuan anak anak kita.
4. Bersabar atas semua hal
وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ
“dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu” (Luqman: 17).
5. Jangan Sombong
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)” (Luqman: 18).
Sifat untuk jangan sombong sangat penting ditanamkan kepada anak anak kita, sehingga tumbuh sikap rendah hati dan lemah lembut kepada sesama.
sebagaimana dalam ayat tersebut :
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
“dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (Luqman: 18).
Dari rangkaian diatas pada kisah Lukmanul AlHakim tadi kita bisa mengambil hikmah dalam menerapkan penting nya pendidikan yang diberikan kepada anak anak kita, bagiamana kurikulum Ke-Tauhidan bisa membangun karakter terbaik sepanjang masa yang mampu membimbing setiap perjalanan hidup anak anak kita dari segala rintangan yang dihadapi.
Demikian tulisan singkat ini, semoga bisa memberikan manfaat .
wasalam
Tulis Komentar