0811106108

Sejarah Kekhalifahan Abu Bakar Ash-Siddiq (Edisi ke 3)

$rows[judul]

Problem Yang di Hadapi Abu Bakar Ash-Siddiq

Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa Islam mulai tersiar sesudah kesepakatan al-Hudaibiyah. Jadi enam tahun setelah peristiwa hijrahnya Nabi, yakni setelah Hawazin dan Tsaqif dapat dikalahkan, mulailah delegasi berdatangan mengahadap Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam untuk menyatakan keIslaman mereka. Peristiwa ini terjadi pada tahun kesembilan Hijriyah.

Fakta diatas dapat memberikan kesimpulan bahwa pada saat nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam wafat, agama Islam belum masuk mendalam pada penduduk Arab. Diantara mereka ada yang menyatakan masuk Islam tetapi belum mempelajari ajaran Islam. Adapula yang hanya untuk menghindari peperangan dengan kaum muslimin, ada pula karena ingin mendaptkan barang rampasan atau kedudukan. Sehingga setelah nabi wafat bagi orang-orang yang demikian dan yang lemah imannya,menjadi kesempatan untuk menyatakan terus terang apa yang tersembunyi dalam hati mereka, lalu murtadlah mereka.

Demikian juga pada sisi sukuisme orang Arab yang bergitu kental. Islam datang dicanagkan supaya orang hidup dalam satu keluarga besar , yakni keluarga Islam. Banyak orang Arab malihat bahwa agama Islam telah menjadikan suku Quraisy diatas suku-suku yang lain. Hal tersebut terindikasi dari bahwa suku Quraisy tetap mempertahankan kekuasaan itu, bertambah kuatlah gerakan untuk melepaskan diri dari Islam dan tampillah diantara suku-suku bangsa Arab orang yang mengaku dirinya Nabi. Diantara orang-orang yang mengaku dirinya Nabi ialah: Musailimatul Kazzab dari Bani Hanifah, Al-Aswad al-Ansi’, Thulaihah ibnu Khuwailid dari Bani Asad.

Adapula golongan yang salah menafsirkan sejumlah ayat Al-Quran atau salah memahaminya. Diantaranya salah memahami QS. At-Taubah 103 :

“Ambillah sedekah daripada harta mereka, buat pembersihkannya penghapuskan kesalahannya.” (At-Taubah 103)

QS al-Mi’raj 24-25:

“Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta). (QS. Al-Mi’raj 24-25)

Meraka mengira bahwa hanya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam sajalah yang berhak memungut zakat, karena beliaulah yang disuruh mengambil zakat pada ayat tersebut.

Maka pada situasi yang demikian Abu Bakar dan sahabat bermusyawarah dengan para sahabat dan kaum muslimin untuk menentukan tindakan apa yang harus diambil untuk mengatasi kesulitan-kesulitan ini.

Diantara kaum muslimin ada yang berpendapat bahwa tidak akan memerangi bangsa Arab seluruhnya, dan ada pula yang berpendapat bahwa tidak ada suatu alasan untuk memerangi orang yang tidak mau membayar zakat selama mereka masih tetap dalam keimanannya (masih percaya kepada Allah, Rasul dan lain-lain).

Dalam keadaan yang sulit inilah dituntut kebesaran jiwa dan ketabahan hati Abu Bakar serta ketegasannya sebagai pemimpin. Dengan tegas dinyatakannya bahwa beliau akan memerangi semua golongan yang menyeleweng dari kebenaran, biar yang murtad, yang mengaku menjadi nabi ataupun yang tidak mau membayar zakat, sampai semuanya kembali pada kebenaran atau beliau gugur sebagai syahid dalam memperjuangkan agama Allah. Yang pada akhirnya Abu Bakar menyerukan kepada kaum muslim untuk kembali kepada Ajaran Islam yang benar, bagi orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan kesesatannya diperangi.

Setelah semuanya selesai, tanah Arab pun bersatu kembali dan bertambah kuatlah berpegangan kepada ajaran Allah.

Pada saat bergolaknya masyarakat Arab, harapan bangsa Persia dan Romawi untuk menghancurkan agama Islam hidup kembali. Bangsa Romawi dan Persia menyokong pergolakan ini, serta melindungi orang-orang yang mengadakan pemberontakan itu. Oleh karena itu, setelah tanah arab kembali – bersiplah kaum muslimin berangkat keutara guna menghadapi dua musuh besar yang sedang menunggu waktu yang baik untuk menghancurkan Islam.

InsyaAllah besok kita lanjutkan Kisah ini...

Semoga bermanfaat.. 

Lajnah Dakwah

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)