0811106108

Kematian

$rows[judul]

         Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan dunia. Shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi Muhammad sang pemilik mukjizat paling utama (Al-Qur’an).

         Kematian merupakan pintu untuk menuju perjalanan panjang setiap jiwa. Kematian merupakan sebuah keniscayaan bagi setiap makhluq. Allah berfirman dalam Q.S Ali ‘Imrân ayat 185;

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ‌ؕ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.”

         Kematian bukanlah sesuatu yang dapat dihindari. Meskipun seseorang masuk ke dalam gedung berlapis baja tebal dan terkunci rapat, niscaya kematian akan datang menghampiri. Allah berfirman;

اَيۡنَ مَا تَكُوۡنُوۡا يُدۡرِكْكُّمُ الۡمَوۡتُ وَلَوۡ كُنۡتُمۡ فِىۡ بُرُوۡجٍ مُّشَيَّدَةٍ‌ ؕ

Artinya: “Di manapun kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu. kendatipun kamu berada di dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (Q.S An-Nisâ’ ayat 78).

          ketika ajal atau kematian menghampiri, tidak akan ada yang dapat mempercepatnya ataupun memperlambatnya. Karena kematian merupakan sebuah kepastian dan bagian dari ketetapan Allah yang tidak ada satu apapun yang dapat terhindar darinya. Allah berfirman dalam Q.S Al-An’âm ayat 2;

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضٰٓى اَجَلًاۗ وَاَجَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهٗ

Artinya: Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menentukan batas waktu hidup (masing-masing). Waktu yang ditentukan (untuk kebangkitan setelah mati) ada pada-Nya.”

         Imam Raghib al-Asfahani mengatakan, bahwa kata ata ajal dapat bermakna mati, waktu, rusak, ‘iddah, siksa atau adzab. Kata ajal di dalam Al-Qur’an memiliki beberapa pengertian sesuai dengan konteks yang mengiringinya. Kata ajal terulang di dalam Al-Qur’an sebanyak 56 kali disertai dengan bentuk kata yang berbeda yang mana akar katanya sama. Sedangkan makna yang umum dan sudah menjadi pemahaman di kalangan umat, kata ajal bermakna kematian.

         Namun demikian, kematian bagi orang-orang beriman hendaknya dijadikan rem nafsu syahwat yang mungkin saja lepas kendali. Nabi Muhammad mengingatkan;

أَكۡثِرُوا ذِكۡرَ هَادِمِ اللَّذَّاتِ يَعۡنِى "الۡمَوۡتِ".

Artinya: “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan! Yakni kematian.” HR Abu Daud dari sahabat Abu Hurairah.

         Kematian merupakan gerbang awal bagi seluruh umat manusia untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya semasa hidup. Baik dan buruknya akan nampak jelas setelah kematian itu datang, dimana ruh sudah berganti alam kehidupan. Dari alam fana menuju alam kekal. Kesenangan akan terputus ketika kematian tiba. Seseorang yang meyakini bahwa kematian bukanlah akhir perjalanan sebuah kehidupan, dia akan selalu berhati-hati dalam segala tindakan, ucapan dan sikapnya. Karena ia meyakini bahwa apapun yang dilakukan maupun diucapkan pasti akan diminta pertanggung jawabannya kelak setelah datangnya kematian.

         Kesenangan dan gemerlap dunia sering menyilaukan mata seseorang hingga ia nekat melakukan kemaksiatan, kedzaliman bahkan berbagai kejahatan lainnya baik yang merugikan dirinya terlebih lagi merugikan orang lain. Itu semua disebabkan karena mereka tidak memiliki keyakinan tentang adanya hari pembalasan setelah datangnya kematian.

         Kualitas dan kuantitas amal perbuatan seseorang ditentukan oleh keimanan dan keyakinannya terhadap kematian sebagai pintu gerbang untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatan semasa ia hidup di dunia. Perbuatan baik yang dilakukan meskipun sebesar biji sawi, niscaya ia akan melihat balasan kebaikannya. Sedangkan perbuatan buruk yang dilakukan meskipun sebesar biji sawi, niscaya ia akan melihat balasan keburukannya. Pahala kebaikan akhirat amatlah besar dan kekal, yakni surga atas izin Allah. Sedangkan siksa akhirat amatlah dahsyat. Karena seringan-ringannya siksa di akhirat, akan membuat isi kepala sesorang terurai karena amat dahsyatnya siksaan.

         Sebagai orang beriman dan memiliki nalar kita patut merenung, apakah kemungkaran yang marak terjadi dan kedzaliman yang menyebar di tengah-tengah masyarakat disebabkan karena minimnya kesadaran masyarakat akan kematian? Apakah mereka tidak menyadari, bahwa segala perbuatan akan diminta pertanggung jawabannya? Takutlah kepada Allah dan kematian, wahai manusia! Karena ketika kematian datang, ia akan datang tanpa adanya informasi peringatan, ia datang tanpa pilih usia, ia datang tanpa pilih status soial, ia datang tanpa kenal tempat maupun waktu. Dan saat itu tiba, kita sudah tidak mampu lagi mempersiapkan bekal kematian, angan-angan hidup abadi akan sirna karena itu hanyalah angan-angan semu. Ketika kematian datang, kita akan dihadapkan dengan angan-angan yang menjadi kenyataan yang akan membuat kita kekal di dalam keabadian akhirat dan ketika kematian datang, kita akan menyadari status golongan kita. Apakah termasuk golongan yang kekal dalam kesenangan, ataukah golongan yang kekal dalam kesengsaraan.

         Lantas, apa yang harus kita lakukan dalam perjalanan hidup ini sebelum kematiang menghampiri? Coba kita rengungkan firman Allah dalam Q.S Al-Mu’minûn ayat 99-100;

حَتَّى إِذَا جَآءَ أَحَدَكُمُ الۡمَوۡتُ قَالَ رَبِّ ارۡجِعُونِ. لَعَلِّي أَعۡمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكۡتُ.

Artinya: “Sehingga apabila datang kematian kepada salah satu dari mereka, ia berkata: ‘Ya Tuhanku, kembalikan aku (ke dunia). Agar aku dapat beramal shalih yang telah aku tinggalkan.’”

         Amal shalih adalah, segala bentuk perbuatan baik yang dilakukan sesorang kepada Tuhannya dan kepada sesama makhluq-Nya atas dasar tuntunan dan tuntutan Agamanya. Jadi, memperbanyak amal shalih merupakan satu-satunya perbuatan yang harus sesegera dan sebanyak mungkin dilakukan sebelum kematian datang. Karena orang yang mengingkari perbuatan baik, orang yang menunda-nunda perbuatan baik kelak akan menyesal. Penyesalan yang tiada berguna ketika kematian datang menghampiri.


 

 

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)