Anwar Luthfi Mas’ud
Abstrak
Ukhuwah Islamiyyah merupakan fondasi
utama dalam membangun persaudaraan di antara sesama Muslim. Konsep ini tidak
hanya bersifat sosial, tetapi juga bernilai teologis sebagai manifestasi
keimanan kepada Allah SWT. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada masa
Rasulullah SAW dan para Khulafa’ al-Rasyidin terwujud melalui persatuan dan
solidaritas umat. Sebaliknya, perpecahan dan fanatisme sempit menjadi penyebab
utama melemahnya peradaban Islam. Risalah ini membahas urgensi ukhuwah
Islamiyyah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits, antara lain QS. Al-Hujurat
ayat 10 serta sabda Nabi SAW tentang larangan menzhalimi sesama Muslim. Ukhuwah
tidak hanya berfungsi sebagai ikatan spiritual, tetapi juga menjadi pondasi
kerja sama dalam dakwah, pendidikan, ekonomi, dan politik. Dalam konteks
modern, ukhuwah Islamiyyah perlu diwujudkan melalui penguatan pendidikan
berbasis akhlak, sinergi organisasi umat, serta pemanfaatan teknologi untuk
dakwah persaudaraan. Dengan menjadikan ukhuwah sebagai landasan, umat Islam
dapat kembali meraih kejayaan dan berperan aktif sebagai rahmatan lil ‘alamiin.
Kata kunci: Ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan, persatuan umat, kejayaan Islam
A.
Pendahuluan
Ukhuwah Islamiyyah
merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya
persaudaraan dan solidaritas di antara sesama Muslim. Di tengah perkembangan
zaman yang serba cepat, tantangan kehidupan modern seperti individualisme,
materialisme, dan perpecahan sosial. Dan hal tersebut semakin terasa akhir
akhir ini terutama ketika ada pemilihan umum dan sampai sekarang masih berjalan
sehingga ada sebutan barisan anak abah dan juga barisan istilah Termul(ternak
mulyono). Hal ini mengakibatkan nilai-nilai persaudaraan antarumat Islam mulai
tergerus, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya
ukhuwah sebagai pondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan
berlandaskan iman. Bahkan belum lama terjadi pekan kemaren Indonesia mengalami,
hal yang membuat persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamyyah) ataupun persaudaraan
sesama bangsa (ukhuwah wathoniyyah) terkoyak, karena ulah beberapa oknum
pejabat negara di negara ini. Kalau hal tersebut terus dibiarkan akan
mengakibatkan negara Indonesia akan terpecah belah di adu domba oleh sekelompok
orang, atau bangsa lain yang tidak menyukai bangsa ini aman damai dan Sentosa.
Dari masalah ini penulis mencoba membuat risalah pendek berkenaan dengan
Ukhuwah Islamiyyah sebagai pondasi persaudaraan sesama muslim untuk menggapai kejayaan
Islam Kembali.
Sejarah Islam membuktikan
bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlah atau kekayaan,
tetapi pada kokohnya persatuan hati dan solidaritas di antara mereka. Rasulullah
SAW berhasil membangun masyarakat Madinah yang berlandaskan persaudaraan dan
tolong-menolong, menjadi contoh nyata betapa ukhuwah memiliki peran strategis
dalam membentuk peradaban Islam yang maju dan berkeadilan. Beliau menyatukan
dua kaum menjadi satu yaitu antara kaum anshar dan muhajirin, saking eratnya
ukhuwah islamiyyah ini, sehingga di abadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an.
Bagaimana dasyatnya di zaman Rasulullah dan para sahabat yang sholeh mampu
menaklukan dua kekuatan imperium besar, yaitu Persia & Romawi. Semua itu
berkat persatuan uman islam.
Ukhuwah Islamiyyah dalam
Mabadi Al-Irsyad memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk kepribadian dan
akhlak umat Islam. Mabadi Al-Irsyad atau prinsip-prinsip dasar Al-Irsyad
merupakan pedoman hidup yang dirumuskan untuk membimbing umat agar memiliki
pemahaman agama yang lurus, akhlak yang mulia, serta semangat persaudaraan yang
kokoh. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah yang
mengajarkan persatuan, kasih sayang, dan solidaritas di antara sesama Muslim.
Mabadi Al-Irsyad
menekankan akidah tauhid yang lurus sebagai dasar kehidupan. Tauhid yang lurus
yang menjadikan keselamatan seorang hamba di dunia maupun di akhirat. Ukhuwah
Islamiyyah tidak mungkin terwujud tanpa fondasi tauhid, karena keimanan kepada
Allah adalah ikatan terkuat yang mempersatukan hati kaum Muslimin. Inilah
pentingnya menanamkan ukhuwah islamiyyah sejak dini pada anak didik kita,
sehingga apabila ukhuwah ini sudah kita tanamkan sejak dini di sekolah, maka
akan melekat hingga dewasa nanti.
Penulisan risalah ini
bertujuan untuk mengingatkan kembali umat Islam tentang pentingnya ukhuwah
dalam kehidupan sehari-hari, dengan merujuk pada dalil Al-Qur’an dan hadits.
Selain itu, Risalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas
tentang bagaimana ukhuwah dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai
tantangan sosial, politik, dan budaya yang dihadapi umat Muslim saat ini.
Dengan memahami konsep ukhuwah Islamiyyah, diharapkan tercipta masyarakat
Muslim yang saling menghargai, bersatu, dan mampu menghadapi arus globalisasi
dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Islam.
B.
Pembahasan
Ukhuwah
Islamiyyah sebagai Pondasi Persaudaraan dalam Islam.
Ukhuwah Islamiyyah dalam Mabadi Al-Irsyad
memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk kepribadian dan akhlak umat
Islam. Mabadi Al-Irsyad atau prinsip-prinsip dasar Al-Irsyad merupakan
pedoman hidup yang dirumuskan untuk membimbing umat agar memiliki pemahaman
agama yang lurus, akhlak yang mulia, serta semangat persaudaraan yang kokoh.
Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah yang mengajarkan
persatuan, kasih sayang, dan solidaritas di antara sesama Muslim.
Pertama, Mabadi Al-Irsyad menekankan akidah
tauhid yang lurus sebagai dasar kehidupan. Ukhuwah Islamiyyah tidak
mungkin terwujud tanpa fondasi tauhid, karena keimanan kepada Allah adalah
ikatan terkuat yang mempersatukan hati kaum Muslimin. Allah SWT berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا
وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan
janganlah kamu bercerai-berai...”
(QS. Ali Imran: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan umat Islam harus berlandaskan
pada agama, bukan pada kepentingan duniawi semata. Agama mampu mengahantarkan
manusia sukses di dunia dan terlebih di akhirat.
Kedua,
Mabadi Al-Irsyad menanamkan nilai akhlak karimah yang merupakan inti
dari ukhuwah. Persaudaraan tidak akan kokoh tanpa akhlak yang mulia, seperti
saling menghargai, tolong-menolong, dan menghindari perpecahan. Rasulullah SAW
menegaskan dalam hadisnya:
الْمُسْلِمُ
أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ
“Seorang
Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain; ia tidak mendzaliminya, tidak membiarkannya,
dan tidak merendahkannya.”
(HR. Muslim).
Hadist
ini menegaskan larangan kita sesama muslim untuk tidak saling mendzalimi, baik
secara fisik maupun verbal yang akan mengakibatkan pepecahan di atara umat
muslim.
Ketiga,
Mabadi Al-Irsyad menekankan pentingnya ilmu dan amal saleh. Ukhuwah
Islamiyyah tidak hanya sebatas perasaan atau ungkapan, tetapi harus diwujudkan
dalam tindakan nyata. Amal sholeh seperti menolong sesama kita, mengajarkan
ilmu pengetahuan, dan menjaga ukhuwah( persaudaraan) adalah implementasi nilai-nilai
Mabadi Al-Irsyad dalam kehidupan kemasyarakatan.
Dengan
demikian, ukhuwah Islamiyyah merupakan bagian dari Mabadi Al-Irsyad yang saling
menguatkan dengan mabda yang lainnya. Mabadi Al-Irsyad memberikan landasan teologis
dan moral untuk menciptakan persaudaraan yang hakiki, sedangkan ukhuwah
Islamiyyah menjadi manifestasi nyata dari ajaran tersebut dalam kehidupan
bermasyarakat. Keduanya membentuk satu kesatuan konsep yang penting dalam
membangun umat Islam yang berakhlak, berilmu, dan bersatu di bawah nilai-nilai
agama yang lurus.
Ukhuwah Islamiyyah atau
persaudaraan sesama umat Islam adalah salah satu konsep utama dalam ajaran
Islam yang menekankan pentingnya ikatan hati, kasih sayang, dan solidaritas
antar sesama Muslim. Kata ukhuwah berasal dari bahasa Arab yang berarti
persaudaraan, sementara Islamiyyah merujuk pada nilai-nilai Islam.
Sehingga, ukhuwah Islamiyyah dapat diartikan sebagai persaudaraan yang
dilandasi oleh ajaran dan nilai-nilai Islam.
Konsep ukhuwah ini bukan
sekadar slogan atau konsep abstrak, melainkan sebuah prinsip yang diwujudkan
dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Dalam sejarah Islam, ukhuwah telah
menjadi salah satu faktor penting yang mempersatukan umat, membentuk peradaban
besar, dan menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Rasulullah SAW
sendiri mencontohkan bagaimana ukhuwah dapat menjadi kekuatan pemersatu dalam
masyarakat yang beragam. Bagaimana dulu daerah tandus dan gersang dan jarang
penduduk, yang tidak di perhitungan oleh kekuatan Kerajaan besar seperti romawi
dan persia, menjelma menjadi kekuatan yang dasyat yang mampu menaklukkan
keduanya. Semua berkat ikatan ukhuwah islamiyyah yang di bangun oleh Rasulullah
SAW.
Makna dan
Landasan Ukhuwah Islamiyyah
Ukhuwah Islamiyyah
memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat
rahmat.”
(QS. Al-Ḥujurat: 10)
Rasulullah SAW
juga menegaskan pentingnya ukhuwah dalam sabdanya:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي
تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى
مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Perumpamaan
kaum mukminin dalam cinta-mencintai, kasih-mengasihi, dan sayang-menyayangi di
antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh merasa sakit,
maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Muslim).
Dalil Al-qur’an dan hadits di atas
menjelaskan anjuran untuk saling menjaga persaudaraan sesama muslim, begitu
juga menjaga dalam hal harta dan kehormatan seorang muslim. dan bahkan
Rasulullah Saw, mengibaratkan sorang muslim itu laksana tubuh yang saling
berhubungan erat. Apabila ada salah satu tubuh kita yang sakit, maka bagian
tubuh yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Jadi apabila kita menyakiti saudara
kita seiman maka hakikatkan kita telah menyakiti diri kita sendiri. Dan
persaudaraan itu mendatangkan kasih sayang dan Rahmat Allah SWT.
Nilai-Nilai
yang Terkandung dalam Ukhuwah
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman
salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia
mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits ini menjelaskan bahwa kesempurnaan
iman seseorang itu, salah satunya Adalah dengan menjaga persaudaraan sesama
muslim. Derajat mencintai saudara seiman disamakan dengan derajat mencintai
diri sendiri.
الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ
وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Agama adalah
nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah,
kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan untuk seluruh kaum
Muslimin.”
(HR. Muslim).
Kewajiban seorang muslim Adalah saling
nasehat-menasihati dalam hal kebaikan, jadi ketika ada saudara muslim kita yang
salah atau melenceng kewajiban kita Adalah menasihatinya. Tentunya dengan cara
yang baik dan hikmah/santun.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا
وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
“Dan janganlah
kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang
kepada mereka keterangan yang jelas...”
(QS. Ali ‘Imran: 105).
Pesan yang terkandung dalam ayat sangatlah
relevan dalam konteks kehidupan manusia, terutama dalam hubungan antarindividu,
antarkomunitas, dan antarnegara. Allah dengan tegas melarang umat manusia untuk
terlibat dalam perpecahan dan perselisihan yang tidak produktif setelah
menerima bukti atau petunjuk yang jelas. Hal ini menegaskan bahwa
pemecahan dan pertikaian tidak hanya merugikan dalam hal-hal dunia, tetapi juga
membawa konsekuensi yang serius di akhirat.
Tolong-Menolong
dalam Kebaikan
Allah SWT berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan
tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Maidah: 2).
Imam Qurthubi dalam kitab
Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, mengatakan “al-birr” dalam ayat ini mencakup
segala perbuatan baik, entah itu yang bersifat wajib seperti shalat dan zakat,
maupun yang sunnah seperti bersedekah dan membantu orang lain. Sedangkan
“at-taqwa” berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan
kata lain, umat Islam harus saling mendorong dalam menjalankan perintah agama
dan menghindari hal-hal yang dilarang.
Ibnu ‘Athiyyah, yang dikutip Imam Qurthubi, menjelaskan bahwa kerja sama
dalam kebaikan mencakup semua bentuk kebaikan, baik yang diwajibkan maupun yang
dianjurkan. Begitu pula, Al-Mawardi menambahkan bahwa Allah mengaitkan kerja
sama ini dengan ketakwaan karena dalam ketakwaan terdapat keridhaan Allah,
sedangkan dalam kebaikan terdapat keridhaan manusia. Jika seseorang berhasil
menggabungkan keduanya, maka ia akan mencapai kebahagiaan dan keberkahan
hidup. Lebih lanjut, ayat ini berlaku
untuk semua orang, tanpa memandang status atau kedudukannya. Semua orang
dianjurkan untuk saling membantu, baik dalam hal duniawi maupun ukhrawi.
Misalnya, seorang guru membantu muridnya dengan mengajarkan ilmu, seorang
dokter membantu pasiennya dengan mengobati penyakitnya, dan seorang kaya
membantu orang miskin dengan hartanya.seorang yang kuat membantu yang lemah,
seorang pejabat membantu rakyatnya bukan malah menipu dan memanfaatkannya demi
kekuasaanya.
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ
وَلَا يَسْلِمُهُ
“Seorang Muslim
adalah saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya dan tidak
membiarkannya (disakiti).”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW melarang
kita untuk mendzalimi sesama muslim bahkan harus saling menghormati dan
menolong, begitu juga ketika kita melihat saudara muslim kita di sakiti, kita
harus menolongnya dari kedzoliman tersebut.
Sejarah Ukhuwah
di Masa Rasulullah
Teladan ukhuwah terbesar
adalah peristiwa hijrah kaum Muhajirin ke Madinah. Kaum Anshar menyambut mereka
dengan penuh cinta dan pengorbanan. Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum
Muhajirin dan Anshar dalam peristiwa Muakhah, sehingga terbentuk
masyarakat Islam yang kokoh meskipun berasal dari latar belakang berbeda. Kaum
anshar dengan penuh tulus dan Ikhlas membantu, semampu mereka baik harta
ataupun tenaga kepada kaum muhajirin, sehingga terciptanya ukhuwah yang kokoh
di antara mereka. Sehingga Allah mengabadikan semangat ukhuwah ini dalam
firman-Nya:
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ
وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ
فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ
كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Dan
orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum
(kedatangan Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.
Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang
diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin), dan mereka mengutamakan (kaum
Muhajirin) atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan.”
(QS. Al-Ḥasyr: 9)
Tantangan
Ukhuwah di Era Modern.
Di era globalisasi,
ukhuwah Islamiyyah menghadapi tantangan besar seperti perpecahan umat karena
perbedaan mazhab, politik, dan budaya. Media sosial menjadi sarana cepat
penyebaran fitnah dan kebencian. Namun, tantangan ini harus menjadi pemicu
untuk memanfaatkan teknologi secara bijak, menguatkan ukhuwah, dan menyebarkan
kebaikan. Memanfaatkan teknologi untuk membuat konten-konten dakwah yang
menumbuhkan semangat ukhuwah di antara muslim dan bangsa (Ukhuwah Islamiyyah
maupun Ukhuwah Wathoniyyah)
Peran Ukhuwah
dalam Masyarakat
لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ
يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ
“Tidak halal
bagi seorang Muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cara Memperkuat
Ukhuwah
لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ
حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى
شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kamu tidak
akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak beriman sampai kamu saling
mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu melakukannya, kamu akan
saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim,)
Budaya salam dan senyum
merupakan ajaran agama kita, mari kita praktekkan di linkungan kita, terutama
di sekolah-sekolah Al-Irsyad sehingga suasana akan terasa nyaman, damai dan
indah. Rasulullah SAW bersabda : “Senyumanmu untuk sodaramu Adalah bernilai
sodaqoh”. Senyuman merupakah ibadah yang gambang dan murah tapi bernilai pahala
di sisi Allah SWT.
Penutup
Ukhuwah Islamiyyah adalah pondasi utama dalam membangun persatuan umat Islam. Dengan mengamalkan nilai ukhuwah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits, umat Islam dapat membangun masyarakat yang damai, sejahtera, dan diridhai Allah. Semangat ukhuwah harus terus dihidupkan di tengah tantangan zaman agar umat Islam menjadi kekuatan yang membawa rahmat bagi semesta alam. Begitupun menjadikan Ukhuwah Islamiyyah sebagai Pondasi Persaudaraan sesama muslim untuk menggapai kejajayan Islam Kembali. Wallahu A’lam Bishowab Luthfi Al Faqiir Ilallah.
Referensi :
Tulis Komentar