0811106108

Menjadikan Ukhuwah Islamiyyah Sebagai Pondasi Persaudaraan Sesama MuslimUntuk Menggapai Kembali Kejayaan Islam.

$rows[judul]

 Anwar Luthfi Mas’ud

Abstrak

Ukhuwah Islamiyyah merupakan fondasi utama dalam membangun persaudaraan di antara sesama Muslim. Konsep ini tidak hanya bersifat sosial, tetapi juga bernilai teologis sebagai manifestasi keimanan kepada Allah SWT. Sejarah membuktikan bahwa kejayaan Islam pada masa Rasulullah SAW dan para Khulafa’ al-Rasyidin terwujud melalui persatuan dan solidaritas umat. Sebaliknya, perpecahan dan fanatisme sempit menjadi penyebab utama melemahnya peradaban Islam. Risalah ini membahas urgensi ukhuwah Islamiyyah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits, antara lain QS. Al-Hujurat ayat 10 serta sabda Nabi SAW tentang larangan menzhalimi sesama Muslim. Ukhuwah tidak hanya berfungsi sebagai ikatan spiritual, tetapi juga menjadi pondasi kerja sama dalam dakwah, pendidikan, ekonomi, dan politik. Dalam konteks modern, ukhuwah Islamiyyah perlu diwujudkan melalui penguatan pendidikan berbasis akhlak, sinergi organisasi umat, serta pemanfaatan teknologi untuk dakwah persaudaraan. Dengan menjadikan ukhuwah sebagai landasan, umat Islam dapat kembali meraih kejayaan dan berperan aktif sebagai rahmatan lil ‘alamiin.

Kata kunci: Ukhuwah Islamiyyah, persaudaraan, persatuan umat, kejayaan Islam

A.    Pendahuluan

Ukhuwah Islamiyyah merupakan konsep fundamental dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya persaudaraan dan solidaritas di antara sesama Muslim. Di tengah perkembangan zaman yang serba cepat, tantangan kehidupan modern seperti individualisme, materialisme, dan perpecahan sosial. Dan hal tersebut semakin terasa akhir akhir ini terutama ketika ada pemilihan umum dan sampai sekarang masih berjalan sehingga ada sebutan barisan anak abah dan juga barisan istilah Termul(ternak mulyono). Hal ini mengakibatkan nilai-nilai persaudaraan antarumat Islam mulai tergerus, sehingga diperlukan pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya ukhuwah sebagai pondasi dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berlandaskan iman. Bahkan belum lama terjadi pekan kemaren Indonesia mengalami, hal yang membuat persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamyyah) ataupun persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathoniyyah) terkoyak, karena ulah beberapa oknum pejabat negara di negara ini. Kalau hal tersebut terus dibiarkan akan mengakibatkan negara Indonesia akan terpecah belah di adu domba oleh sekelompok orang, atau bangsa lain yang tidak menyukai bangsa ini aman damai dan Sentosa. Dari masalah ini penulis mencoba membuat risalah pendek berkenaan dengan Ukhuwah Islamiyyah sebagai pondasi persaudaraan sesama muslim untuk menggapai kejayaan Islam Kembali.

Sejarah Islam membuktikan bahwa kekuatan umat Islam tidak hanya terletak pada jumlah atau kekayaan, tetapi pada kokohnya persatuan hati dan solidaritas di antara mereka. Rasulullah SAW berhasil membangun masyarakat Madinah yang berlandaskan persaudaraan dan tolong-menolong, menjadi contoh nyata betapa ukhuwah memiliki peran strategis dalam membentuk peradaban Islam yang maju dan berkeadilan. Beliau menyatukan dua kaum menjadi satu yaitu antara kaum anshar dan muhajirin, saking eratnya ukhuwah islamiyyah ini, sehingga di abadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Bagaimana dasyatnya di zaman Rasulullah dan para sahabat yang sholeh mampu menaklukan dua kekuatan imperium besar, yaitu Persia & Romawi. Semua itu berkat persatuan uman islam.

Ukhuwah Islamiyyah dalam Mabadi Al-Irsyad memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk kepribadian dan akhlak umat Islam. Mabadi Al-Irsyad atau prinsip-prinsip dasar Al-Irsyad merupakan pedoman hidup yang dirumuskan untuk membimbing umat agar memiliki pemahaman agama yang lurus, akhlak yang mulia, serta semangat persaudaraan yang kokoh. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah yang mengajarkan persatuan, kasih sayang, dan solidaritas di antara sesama Muslim.

Mabadi Al-Irsyad menekankan akidah tauhid yang lurus sebagai dasar kehidupan. Tauhid yang lurus yang menjadikan keselamatan seorang hamba di dunia maupun di akhirat. Ukhuwah Islamiyyah tidak mungkin terwujud tanpa fondasi tauhid, karena keimanan kepada Allah adalah ikatan terkuat yang mempersatukan hati kaum Muslimin. Inilah pentingnya menanamkan ukhuwah islamiyyah sejak dini pada anak didik kita, sehingga apabila ukhuwah ini sudah kita tanamkan sejak dini di sekolah, maka akan melekat hingga dewasa nanti.

Penulisan risalah ini bertujuan untuk mengingatkan kembali umat Islam tentang pentingnya ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari, dengan merujuk pada dalil Al-Qur’an dan hadits. Selain itu, Risalah ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana ukhuwah dapat menjadi solusi dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, politik, dan budaya yang dihadapi umat Muslim saat ini. Dengan memahami konsep ukhuwah Islamiyyah, diharapkan tercipta masyarakat Muslim yang saling menghargai, bersatu, dan mampu menghadapi arus globalisasi dengan tetap memegang teguh nilai-nilai Islam.

B.     Pembahasan

Ukhuwah Islamiyyah sebagai Pondasi Persaudaraan dalam Islam.

Ukhuwah Islamiyyah dalam Mabadi Al-Irsyad memiliki keterkaitan yang erat dalam membentuk kepribadian dan akhlak umat Islam. Mabadi Al-Irsyad atau prinsip-prinsip dasar Al-Irsyad merupakan pedoman hidup yang dirumuskan untuk membimbing umat agar memiliki pemahaman agama yang lurus, akhlak yang mulia, serta semangat persaudaraan yang kokoh. Nilai-nilai ini sejalan dengan konsep ukhuwah Islamiyyah yang mengajarkan persatuan, kasih sayang, dan solidaritas di antara sesama Muslim.

Pertama, Mabadi Al-Irsyad menekankan akidah tauhid yang lurus sebagai dasar kehidupan. Ukhuwah Islamiyyah tidak mungkin terwujud tanpa fondasi tauhid, karena keimanan kepada Allah adalah ikatan terkuat yang mempersatukan hati kaum Muslimin. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai...”
(QS. Ali Imran: 103)

Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan umat Islam harus berlandaskan pada agama, bukan pada kepentingan duniawi semata. Agama mampu mengahantarkan manusia sukses di dunia dan terlebih di akhirat.

Kedua, Mabadi Al-Irsyad menanamkan nilai akhlak karimah yang merupakan inti dari ukhuwah. Persaudaraan tidak akan kokoh tanpa akhlak yang mulia, seperti saling menghargai, tolong-menolong, dan menghindari perpecahan. Rasulullah SAW menegaskan dalam hadisnya:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain; ia tidak mendzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak merendahkannya.”
(HR. Muslim).

Hadist ini menegaskan larangan kita sesama muslim untuk tidak saling mendzalimi, baik secara fisik maupun verbal yang akan mengakibatkan pepecahan di atara umat muslim.

Ketiga, Mabadi Al-Irsyad menekankan pentingnya ilmu dan amal saleh. Ukhuwah Islamiyyah tidak hanya sebatas perasaan atau ungkapan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Amal sholeh seperti menolong sesama kita, mengajarkan ilmu pengetahuan, dan menjaga ukhuwah( persaudaraan) adalah implementasi nilai-nilai Mabadi Al-Irsyad dalam kehidupan kemasyarakatan.

Dengan demikian, ukhuwah Islamiyyah merupakan bagian dari Mabadi Al-Irsyad yang saling menguatkan dengan mabda yang lainnya. Mabadi Al-Irsyad memberikan landasan teologis dan moral untuk menciptakan persaudaraan yang hakiki, sedangkan ukhuwah Islamiyyah menjadi manifestasi nyata dari ajaran tersebut dalam kehidupan bermasyarakat. Keduanya membentuk satu kesatuan konsep yang penting dalam membangun umat Islam yang berakhlak, berilmu, dan bersatu di bawah nilai-nilai agama yang lurus.

Ukhuwah Islamiyyah atau persaudaraan sesama umat Islam adalah salah satu konsep utama dalam ajaran Islam yang menekankan pentingnya ikatan hati, kasih sayang, dan solidaritas antar sesama Muslim. Kata ukhuwah berasal dari bahasa Arab yang berarti persaudaraan, sementara Islamiyyah merujuk pada nilai-nilai Islam. Sehingga, ukhuwah Islamiyyah dapat diartikan sebagai persaudaraan yang dilandasi oleh ajaran dan nilai-nilai Islam.

Konsep ukhuwah ini bukan sekadar slogan atau konsep abstrak, melainkan sebuah prinsip yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Dalam sejarah Islam, ukhuwah telah menjadi salah satu faktor penting yang mempersatukan umat, membentuk peradaban besar, dan menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Rasulullah SAW sendiri mencontohkan bagaimana ukhuwah dapat menjadi kekuatan pemersatu dalam masyarakat yang beragam. Bagaimana dulu daerah tandus dan gersang dan jarang penduduk, yang tidak di perhitungan oleh kekuatan Kerajaan besar seperti romawi dan persia, menjelma menjadi kekuatan yang dasyat yang mampu menaklukkan keduanya. Semua berkat ikatan ukhuwah islamiyyah yang di bangun oleh Rasulullah SAW.

Makna dan Landasan Ukhuwah Islamiyyah

Ukhuwah Islamiyyah memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur’an dan hadis. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Ḥujurat: 10)

Rasulullah SAW juga menegaskan pentingnya ukhuwah dalam sabdanya:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta-mencintai, kasih-mengasihi, dan sayang-menyayangi di antara mereka adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur.”
(HR. Muslim).

Dalil Al-qur’an dan hadits di atas menjelaskan anjuran untuk saling menjaga persaudaraan sesama muslim, begitu juga menjaga dalam hal harta dan kehormatan seorang muslim. dan bahkan Rasulullah Saw, mengibaratkan sorang muslim itu laksana tubuh yang saling berhubungan erat. Apabila ada salah satu tubuh kita yang sakit, maka bagian tubuh yang lain akan ikut merasakan sakitnya. Jadi apabila kita menyakiti saudara kita seiman maka hakikatkan kita telah menyakiti diri kita sendiri. Dan persaudaraan itu mendatangkan kasih sayang dan Rahmat Allah SWT.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Ukhuwah

  1. Kasih Sayang dan Empati
    Rasulullah SAW bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa kesempurnaan iman seseorang itu, salah satunya Adalah dengan menjaga persaudaraan sesama muslim. Derajat mencintai saudara seiman disamakan dengan derajat mencintai diri sendiri.

  1. Saling Menasihati
    Rasulullah SAW bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ

 لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab: “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan untuk seluruh kaum Muslimin.”
(HR. Muslim).

Kewajiban seorang muslim Adalah saling nasehat-menasihati dalam hal kebaikan, jadi ketika ada saudara muslim kita yang salah atau melenceng kewajiban kita Adalah menasihatinya. Tentunya dengan cara yang baik dan hikmah/santun.

  1. Mengutamakan Persatuan dan Perdamaian
    Allah SWT berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan yang jelas...”
(QS. Ali ‘Imran: 105).

Pesan yang terkandung dalam ayat sangatlah relevan dalam konteks kehidupan manusia, terutama dalam hubungan antarindividu, antarkomunitas, dan antarnegara. Allah dengan tegas melarang umat manusia untuk terlibat dalam perpecahan dan perselisihan yang tidak produktif setelah menerima bukti atau petunjuk yang jelas.   Hal ini menegaskan bahwa pemecahan dan pertikaian tidak hanya merugikan dalam hal-hal dunia, tetapi juga membawa konsekuensi yang serius di akhirat.

Tolong-Menolong dalam Kebaikan
Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
(QS. Al-Maidah: 2).

Imam Qurthubi dalam kitab Al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, mengatakan “al-birr” dalam ayat ini mencakup segala perbuatan baik, entah itu yang bersifat wajib seperti shalat dan zakat, maupun yang sunnah seperti bersedekah dan membantu orang lain. Sedangkan “at-taqwa” berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Dengan kata lain, umat Islam harus saling mendorong dalam menjalankan perintah agama dan menghindari hal-hal yang dilarang.   Ibnu ‘Athiyyah, yang dikutip Imam Qurthubi, menjelaskan bahwa kerja sama dalam kebaikan mencakup semua bentuk kebaikan, baik yang diwajibkan maupun yang dianjurkan. Begitu pula, Al-Mawardi menambahkan bahwa Allah mengaitkan kerja sama ini dengan ketakwaan karena dalam ketakwaan terdapat keridhaan Allah, sedangkan dalam kebaikan terdapat keridhaan manusia. Jika seseorang berhasil menggabungkan keduanya, maka ia akan mencapai kebahagiaan dan keberkahan hidup.   Lebih lanjut, ayat ini berlaku untuk semua orang, tanpa memandang status atau kedudukannya. Semua orang dianjurkan untuk saling membantu, baik dalam hal duniawi maupun ukhrawi. Misalnya, seorang guru membantu muridnya dengan mengajarkan ilmu, seorang dokter membantu pasiennya dengan mengobati penyakitnya, dan seorang kaya membantu orang miskin dengan hartanya.seorang yang kuat membantu yang lemah, seorang pejabat membantu rakyatnya bukan malah menipu dan memanfaatkannya demi kekuasaanya.

  1. Menghormati Perbedaan
    Rasulullah SAW bersabda:

الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَسْلِمُهُ

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (disakiti).”
(HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah SAW melarang kita untuk mendzalimi sesama muslim bahkan harus saling menghormati dan menolong, begitu juga ketika kita melihat saudara muslim kita di sakiti, kita harus menolongnya dari kedzoliman tersebut.  

Sejarah Ukhuwah di Masa Rasulullah

Teladan ukhuwah terbesar adalah peristiwa hijrah kaum Muhajirin ke Madinah. Kaum Anshar menyambut mereka dengan penuh cinta dan pengorbanan. Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dalam peristiwa Muakhah, sehingga terbentuk masyarakat Islam yang kokoh meskipun berasal dari latar belakang berbeda. Kaum anshar dengan penuh tulus dan Ikhlas membantu, semampu mereka baik harta ataupun tenaga kepada kaum muhajirin, sehingga terciptanya ukhuwah yang kokoh di antara mereka. Sehingga Allah mengabadikan semangat ukhuwah ini dalam firman-Nya:

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (kaum Muhajirin), dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan.”
(QS. Al-Ḥasyr: 9)

Tantangan Ukhuwah di Era Modern.

Di era globalisasi, ukhuwah Islamiyyah menghadapi tantangan besar seperti perpecahan umat karena perbedaan mazhab, politik, dan budaya. Media sosial menjadi sarana cepat penyebaran fitnah dan kebencian. Namun, tantangan ini harus menjadi pemicu untuk memanfaatkan teknologi secara bijak, menguatkan ukhuwah, dan menyebarkan kebaikan. Memanfaatkan teknologi untuk membuat konten-konten dakwah yang menumbuhkan semangat ukhuwah di antara muslim dan bangsa (Ukhuwah Islamiyyah maupun Ukhuwah Wathoniyyah)

 

Peran Ukhuwah dalam Masyarakat

  1. Mencegah Konflik dan Perpecahan
    Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثٍ

“Tidak halal bagi seorang Muslim untuk menjauhi saudaranya lebih dari tiga hari...”
(HR. Bukhari dan Muslim)

  1. Menguatkan Solidaritas Sosial
    Ukhuwah mendorong umat Islam untuk peduli kepada fakir miskin, anak yatim, dan korban bencana.
  2. Menjadi Teladan bagi Umat Lain
    Persatuan umat Islam menjadi teladan bagi dunia dalam hal kepedulian dan solidaritas. Kita contohkan bahwa islam Adalah agama yang rahmatal lilalamin, yang menyayangi seluruh alam ini.
  3. Membangun Persaudaraan Antar Bangsa
    Ikatan ukhuwah bersifat global tanpa mengenal batas wilayah dan ras. Misalnya menghimpun donasi untuk sodara-sodara muslim kita di gaza Palestina, merupakan wujud ukhuwah antar bangsa

Cara Memperkuat Ukhuwah

  • Memperbanyak Salam dan Senyum
    Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Kamu tidak akan masuk surga sampai kamu beriman, dan kamu tidak beriman sampai kamu saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kamu melakukannya, kamu akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.”
(HR. Muslim,)

  • Menghormati perbedaan.
  • Menjauhi ghibah dan fitnah.
  • Membiasakan tolong-menolong dalam kebaikan.
  • Mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Budaya salam dan senyum merupakan ajaran agama kita, mari kita praktekkan di linkungan kita, terutama di sekolah-sekolah Al-Irsyad sehingga suasana akan terasa nyaman, damai dan indah. Rasulullah SAW bersabda : “Senyumanmu untuk sodaramu Adalah bernilai sodaqoh”. Senyuman merupakah ibadah yang gambang dan murah tapi bernilai pahala di sisi Allah SWT.

Penutup

Ukhuwah Islamiyyah adalah pondasi utama dalam membangun persatuan umat Islam. Dengan mengamalkan nilai ukhuwah berdasarkan dalil Al-Qur’an dan hadits, umat Islam dapat membangun masyarakat yang damai, sejahtera, dan diridhai Allah. Semangat ukhuwah harus terus dihidupkan di tengah tantangan zaman agar umat Islam menjadi kekuatan yang membawa rahmat bagi semesta alam. Begitupun menjadikan Ukhuwah Islamiyyah sebagai Pondasi Persaudaraan sesama muslim untuk menggapai kejajayan Islam Kembali. Wallahu A’lam Bishowab Luthfi Al Faqiir Ilallah. 

Referensi :

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Departemen Agama RI. (2019). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
  3. An-Nawawi, Imam. (2005). Syarah Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam.
  4. Al-Bukhari, Imam. (2002). Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
  5. Muslim, Imam. (2006). Shahih Muslim. Riyadh: Darussalam.
  6. Ibnu Katsir, Ismail. (2010). Tafsir Ibnu Katsir. Riyadh: Darussalam.
  7. Al-Ghazali, Imam. (1998). Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar al-Ma’rifah.
  8. Shihab, Quraish. (2013). Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat. Bandung: Mizan.
  9. Yusuf al-Qaradawi. (1997). Fiqh al-Ukhuwwah fi al-Islam. Kairo: Maktabah Wahbah.
  10. Tim Penyusun Ensiklopedi Islam. (2003). Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru van Hoeve.

Tulis Komentar

(Tidak ditampilkan dikomentar)